TIPS AGAR ANDA BAHAGIA DENGAN SUAMI ANDA:
1. Jangan membiarkan suami anda memandang dalam keadaan anda tidak menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu membuat suaminya bahagia.
2. Hendaklah senyum itu senantiasa menghiasi bibirmu setiap anda dipandang oleh sang suami.
3. Perbanyaklah mencari keridhan suami dengan mentaatinya, sejauh mana ketaatan anda kepada suami, sejauh itu pulalah dia merasakan cintamu kepadanya dan dia akan segera menuju keridhaanmu.
4. Pilihlah waktu yang tepat untuk meluruskan kesalahan suami.
5. Jadilah anda orang yang lapang dada, janganlah sekali-kali menyebut-nyebut kekurangan suami anda kepada orang lain.
6. Perbaikilah kesalahan suami dengan segala kemampuan dan kecintaan yang anda miliki, janganlah berusaha melukai perasaannya.
7. Janganlah memuji-muji laki-laki lain dihadapan suami kecuali sifat diniyah yang ada pada laki-laki tersebut.
8. Jangan engkau benarkan ucapan negatif dari orang lain tentang suamimu.
9. Upayakan untuk tampil di depan suamimu dengan perbuatan yang disenanginya dan ucapan yang disenanginya pula.
10. Berilah pengertian kepada suami anda agar dia menghormatimu dan saling menghormati dalam semua urusan.
11. Anda harus selalu merasa senang berkunjung kepada kedua orang tuanya.
12. Janganlah anda menampakkan kejemuan padanya, jika terjadi kekurangan materi Ingatlah bahwa apa yang ia berikan kepadamu sudah lebih dari cukup.
13. Biasakanlah anda tertawa bila ia tertawa, menangis dan bersedih jika ia bersedih. Karena bersatunya perasaan akan melahirkan perasaan cinta kasih.
14. Diam dan perhatikanlah jika ia berbicara.
15. Janganlah banyak mengingatkan bahwa anda pernah meminta sesuatu kepadanya. Bahkan jangan diingatkan kecuali jika anda tahu bahwa ia mudah untuk diingatkan.
16. Janganlah anda mengulangi kesalahan yang tidak disenangi oleh suami anda dan ia tidak suka melihatnya.
17. Jangan lupa bila anda melihat suami anda shalat sunnah di rumah, hendaknya anda berdiri dan ikut shalat dibelakangnya. Jika ia membaca, hendaknya anda duduk mendengarkannya.
18. Jangan berlebih-lebihan berbicara tentang angan-angan pribadi di depan suami, tetapi mintalah selalu agar ia menyebutkan keinginan pribadinya di depanmu.
19. Janganlah mendahulukan pendapatmu dari pendapatnya pada setiap masalah, baik yang kecil maupun yang besar. Hendaklah cintamu kepadanya mendorong anda mendahulukan pendapatnya.
20. Janganlah anda mengerjakan shaum sunnah kecuali dengan izinnya, dan jangan keluar rumah kecuali dengan sepengetahuannya.
21. Jagalah rahasia yang disampaikan kepadamu dan janganlah menyebarkannya sekalipun kepada kedua orang tuanya.
22. Hati-hati jangan sampai menyebut-nyebut bahwa anda lebih tinggi derajatnya dari derajat suami. Hal itu akan mengundang kebencian kepadamu.
23. Jika salah satu dari orang tuanya sakit atau kerabatnya, maka anda punya kewajiban untuk menjenguk bersamanya.
24. Sesuaikanlah peralatan rumah tangga anda dengan barang-barang yang disenangi suami anda.
25. Jangan sampai anda meninggalkan rumah meskipun sedang bertengkar dengannya.
26. Katakanlah kejemuan dan kebosananmu ketika ia sudah meninggalkan rumah.
27. Terimalah udzurnya ketika ia membatalkan janjinya untuk keluar bersamamu, karena mungkin ia terpaksa memenuhi panggilan orang yang datang kepadanya.
28. Hindari sifat cemburu, sesungguhnya cemburu adalah senjata penghancur.
29. Janganlah mengabaikan pemimpinmu (suami) dengan alasan bahwa ia telah menjadi suamimu.
30. Janganlah anda berbicara dengan sang suami, seakan-akan anda suci dan dia berdosa.
31. Jagalah perasaannya, jangan gembira ketika dia sedang sedih dan jangan menangis ketika dia gembira.
32. Perbanyaklah menyebut-nyebut keutamaan suami di hadapannya.
33. Perlihatkan kepada suamimu bahwa anda turut merasakan apa yng dirasakan sang suami tatkala ia tidak berhasil mencapai maksud dan tujuannya.
34. Perbaharuilah (tekad suami) ketika terjadi kegagalan.
35. Jauhilah sifat dusta karena hal itu akan menyakitkannya.
36. Ingatkanlah selalu pada suamimu bahwa anda tidak tahu (bagaimana nasib anda) seandainya anda tidak dipersunting olehnya.
37. Ucapkanlah rasa syukur dan terima kasih pada waktu ia memberikan sesuatu kepadamu.
Diketik ulang dari: "Nasehat kepada para Muslimah", bagian kedua, Fathi Majdi as-Sayyid. Penerjemah:Muzaidi Hasbullah, Lc,dkk.Penerbit: Pustaka Arafah, Cetakan I: April 2001/Muharram 1422H, hal.66-70
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Ada suatu kebiasaan yang sudah meyebar, yaitu adanya gadis remaja atau orang tuanya menolak orang yang melamarnya, dengan alasan masih hendak menyelesaikan studinya di SMU atau di Perguruan Tinggi, atau sampai karena untuk mengajar dalam beberapa tahun. Apa hukumnya ? Apa nasihat Syaikh bagi orang-orang yang melakukannya, bahkan ada wanita yang sudah mencapai usia 30 tahun atau lebih belum menikah ?
Jawaban.
Nasehat saya kepada semua pemuda dan pemudi agar segera menikah jika ada kemudahan, karena Nabi Shallallau ‘alaihi wa sallam telah bersabda.
“Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kesanggupan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kesucian farji ; dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai baginya” [Muttafaq ‘Alaih]
Sabda beliau juga.
“Artinya : Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar, maka kawinkanlah ia ( dengan putrimu), jika tidak niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini” [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi, dengan sanad Hasan]
Sabda beliau lagi.
“Artinya : Kawinkanlah wanita-wanita yang penuh kasih sayang lagi subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan menyaingi ummat-umat lain dengan jumlah kalian pada hari kiamat kelak”
Menikah juga banyak mengandung maslahat yang sebagiannya telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti terpalingnya pandangan mata (dari pandangan yang tidak halal), menjaga kesucian kehormatan, memperbanyak jumlah ummat Islam serta selamat dari kerusakan besar dan akibat buruk yang membinasakan.
Semoga Allah memberi taufiqNya kepada segenap kaum Muslimin menuju kemaslahatan urusan agama dan dunia mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Dekat.
[Fatwa Syaikh Bin Baz di dalam Majalah Al-Da’wah, edisi 117]
[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 417-418 Darul Haq, Oleh : Syaikh Abdul Aziz binBaz
sumber http://www.almanhaj.or.id...]
Pesan:
"Artinya : Dari Abu Bakar bin Sulaiman Al-Qursyi, dia berkata.'Sesungguhnya ada seorang laki-laki dalam kalangan Anshar yang mempunyai bisul. Lalu ditunjukkan bahwa Asy-Syifa' binti Abdullah dapat mengobati bisul dengan ruqyah. Maka laki-laki Anshar itu mendatanginya lalu meminta agar dia mengobatinya lalu meminta agar dia mengobatinya dengan ruqyah. Asy-Syifa' berkata kata. 'Demi Allah, aku tidak lagi mengobati dengan ruqyah sejak aku masuk Islam'. Lalu laki-laki Anshar itu pergi menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengabarkan kepada beliau tentang apa yang dikatakan Asy-Syifa'. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Asy-Syifa, seraya berkata. 'Perlihatkanlah (ruqyah itu) kepadaku !'. Maka dia pun memperlihatkannya. Lalu beliau berkata. 'Obatilah dia dengan ruqyah, dan ajarkanlah ia kepada Hafshah sebagaimana engkau mengajarkan Al-Kitab kepadanya'. Dalam suatu riwayat disebutkan :'Mengajari menulis". [Hadits shahih, ditakhrij Al-Hakim 4/56-57, menurutnya, ini adalah hadits shahih menurut syarat Asy-Syaikhani. Yang serupa dengan ini juga ditakhrij dari jalan lain oleh Abu Dawud, hadits nomor 3887, Ahmad 6/372]
Wahai Ukhti Muslimah !
Wasiat Nabawi ini mencakup dua bagian.
1. Pembahasan tentang pengobatan dengan menggunakan ruqyah. Masalah ini sudah kami kemukakan dalam salah satu dari wasiat-wasiat beliau terdahulu.
2. Pengajaran tentang pengobatan dan menulis bagi para wanita.
Wahai Ukhti Muslimah !
Islam adalah agama persamaan, yang mempersamakan antara laki-laki dan wanita dalam masalah pahala dan siksa. Islam menganjurkan laki-laki dan wanita agar memikirkan ciptaan Allah dan berusaha untuk mendapatkan keridhaan-Nya.
Berangkat dari penjelasan ini, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan Asy-Syifa' agar mengajarkan ruqyah kepada Ummul Mukminin, Hafshah, setelah dia mengajarinya cara menulis.
Jadi, wanita juga harus belajar, mendatangai majlis-majlis ilmu dan bertanya kepada orang-orang yang berilmu tentang segala hal yang hendak diketahuinya, berupa urusan-urusan agamanya, jika sang suami tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu. Tetapi yang dimaksudkan disini bukan sekedar ilmu yang diakhiri dengan memperoleh ijazah agar bisa mendapatkan perkerjaan. tetapi yang dimaksudkan ilmu di sini adalah apa yang terkandung di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Karena bagaimana mungkin engkau akan merasa puas jika engkau hanya menguasai ilmu yang berkaitan dengan urusan dunia, tetapi engkau tidak tahu urusan akhirat ? Atau bagaimana mungkin engkau berusaha untuk mendapatkan ilmu dunia, sementara engkau juga melakukan hal-hal yang membuat Allah marah, seperti ber-tabarruj, membuka aurat dan mementingkan hawa nafsu ?
Memang benar, para orang tua tidak bisa mencegah anak-anak putrinya untuk mencari ilmu. Tetapi bagaimana mungkin seorang ayah membiarkan anak putrinya pergi mencari ilmu, sedangkan dia tidak shalat, tidak pernah membaca Al-Qur'an dan bahkan tidak tahu hukum-hukum yang mestinya diketahui oleh wanita secara khusus dari urusan-urusan agamanya ? Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa mencari ilmu karena Allah, merupakan gambaran ketakutan, mencari ilmu adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menganalisisnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang-orang yang tidak tahu adalah shadaqah, membiayai orang yang mencari ilmu adalah qurbah, dan ilmu merupakan pendamping tatqala sendirian, dalil atas agama, Allah mengangkat suatu kaum karenanya, menjadikannya sebagai bukti dalam kebaikan dan dengan ilmu pula ibadah kepada Allah bisa menjadi sempurna, yang halal dan yang haram pun bisa diketahui.
Begitulah agama kita mengangkat kedudukan ilmu dan orang yang berilmu, menganjurkan laki-laki dan wanita untuk mencarinya. Tetapi bagaimana mungkin engkau berusaha mati-matian mendalami ilmu yang bisa mendukung kesuksesanmu di dunia, seperti ilmu arsitektur, kedokteran dan ilmu ilmu lain, namun engkau melalaikan hal-hal yang memasukanmu ke sorga dan menjauhkanmu dari neraka .?
Dengan cara melakukan instropeksi, engkau bisa bertanya kepada diri sendiri : Sejauh mana hukum-hukum dan ilmu agama yang engkau ketahui. Jika engkau mendapatkan kebaikan disana, maka pujilah Allah, karena ini berasal dari karunia dan taufiq-Nya kepadamu. Dan, jika engkau mendapatkan selain itu, maka memohonlah ampun kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dan carilah bekal dengan ilmu agamamu. Karena hal yang paling baik ialah mendalami agamamu, dan penderitaan adalah bagi orang-orang yang terpedaya oleh hal-hal yang tampak gemerlap dari ilmu-ilmu dunia, namun dia tidak memperdulikan ilmu akhirat. Firman Allah tentang hal ini.
"Artinya : Dan, barangsiapa berpaling dari pengetahuanku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpun-nya pada hari kiamat dalam keadaan buta". [Thaha : 123].
Begitulah wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menganjurkan para wanita agar berusaha mencari ilmu dan mendapatkannya.
[Disalin dari kitab Khamsuna Wasyiyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Lin Nisa', Penulis Majdi As-Sayyid Ibrahim, Penerbit Maktabatul Qur'an, Mesir 1988, edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Penerjemah Kathur Suhardi, Penerbit Pustaka Al-Kautsar hal. 352-355]
Wahyu dan akal memilki posisi sentral dalam ranah pemikiran Islam. Wahyu Al-qur’an dan As Sunnah Nabawiyah adalah sumber segala sumber hukum, ia adalah masdar tsayri’. Sementara akal, ialah yang bertugas untuk memahami nash-nash (teks) wahyu tersebut. Ia berperan dalam mencerna, menguraikan dan menjelaskan kesimpulan-kesimpulan hukum dari teks-teks wahyu tersebut.
Terkait dengan akal ini, ibnu Taimiyah menyatakan : ”akal adalah syarat untuk mengetahui ilmu-ilmu pengetahuan dan syarat bagi sempurna dan benarnya amalan-amalan. Dengan akal, ilmu dan amal menjadi sempurna. Namun demikian, ia tidak berdiri sendirian dalam hal itu, tetapi ia adalah insting dan kekuatan yang ada dalam jiwa. Ia tak ubahnya seperti kekuatan pandangan yang ada pada mata. Jika akal berhubungan dengan cahaya iman dan Al-qur’an, maka akal seperti cahaya mata jika ia berhubungan dengan cahaya matahari”
Islam Menghormati Akal
Agama islam adalah agama yang sangat menghormati akal secara adil dan optimal. Bahkan akal dijadikan standar seseorang
untuk diberi beban taktif (beban hukum). Seorang yang kehilangan akal tidak dikenai beban hukum.
Islam menjadikan akal sebagai salah satu dari lima hal primer yang diperintahkan oleh syariat untuk dijaga dan dipelihara, lima hal primer tersebut oleh Imam Asy-Syatibi disebut dengan Maqoshid As-Syariah Al-Khomsah (5 maksud tujuan syariat) yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga jiwa, menjaga keturunan, menjaga harta, menjaga akal.
Tidak ada akidah dan kitab suci yang sedemikian tinggi memberi penghormatan kepada akal manusia melebihi akidah Islam dan kitab suci Al-qur’an. Bahkan Al-qur’an sering kali meminta pertimbangan akal untuk menunaikan perannya yang diciptakan oleh Allah swt. Oleh sebab itu, sering sekali kita mendapati ayat-ayat yang berbunyi: ”Agar kamu memikirkan”, ”untuk kaum yang berfikir”, ”untuk kaum yang berakal”, ”ambillah pelajaran hai orang-orang yang berakal”. Terdapat puluhan ayat sejenis diulang dalam Al-qur’an, dan hal itu menunjukkan dan membuktikan metodologi Al-qur’an yang tiada duanya dalam mengajak kita untuk beriman dan menghormati akal. Islam tidak meminta seseorang untuk memadamkan lentera akalnya dan berkeyakinan begitu saja kita selalu diajak untuk merenung dan memikirkan ayat-ayat Allah swt, baik ayat-ayat suci maupun ayat-ayat semesta, karena di balik semua itu ada banyak pelajaran yang akan mendewasakan kita dalam memakai hidup ini.
Ruang Kerja Akal
Islam dengan segala penghormatannya kepada akal, agar ia tidak tersesat dan bersimpang jalan dengan fitrah dan nurani. Cara ini sejatinya adalah bentuk pemuliaan juga terhadap akal itu sendiri. Hal itu karena akal memiliki kemampuan dan daya jangkau yang terbatas,
sehingga ia tak mungkin akan mampu mnjangkau semua hakikat kebenaran meskipun telah diberi kompetensi dan daya nalar yang cukup. Terkait dengan hal itu As-Syatiby menuturkan: ”Allah swt telah membuat untuk akal batasan daya jangkau yang tak bisa dilampauinya, dan Allah swt tidak memberikan untuk akal daya jangkau yang akan mampu menalar segala sesuatu yang diinginkan.” Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa akal manusia itu kerdil dan terbatas. Allah swt berfirman : ”dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang maha mengetahui.” (Q.s.Yusuf:76) Akal adalah makhluk dan Allah sang kholik saja yang maha mengetahui segala sesuatu.
Mengingat keterbatasan akal dalam jangkau nalarnya, maka sangat masuk akal bahwa hal-hal yang bersifat ghoib (metafisika) bukanlah wilayah dan ruang kerja akal. Oleh karena itu, akal tidak mungkin mampu menalar dzat Allah swt, malaikat, kiamat, siksa kubur, surga, neraka dan lain-lain. Kita dilarang untuk memikirkan dzad Allah swt tetapi kita diperintahkan untuk memikirkan ayat-ayat dan nikmat-nikmat Allah swt. Dalam hal ini pendekatan yang mesti digunakan adalah pendekatan iman.
Hubungan Logika dengan Syariat
Beberapa firqoh (sekte) dalam islam beranggapan bahwa akal adalah asal dan sandaran hukum, dan jika terdapat kontradiksi (pertentangan) antara wahyu dengan akal, maka akal yang harus lebih dikedepankan. Mereka beramsumsi bahwa wahyu dan akal sama saja karena keduanya juga berasal dari Allah swt.
Banyak orang yang dengan lantang menolak nash Al-Qur’an atau Hadits Nabi hanya karena dalam pandangan mereka bahwa Hadits tersebut tak sesuai dengan nalar logikanya.
untuk disandingkan sama dan sejajar. Wahyu Allah swt itu mutlak kebenarannya, sementara akal manusia relatif, terbatas dan ia tidak lepas dari kekeliruan-kekeliruan dalam menalar sesuatu, sejenius dan secerdas apapun orang itu. Selain itu, Islam adalah sistem hidup yang sempurna, sejak diturunkan Islam telah berwujud sebagai pandangan dan sistem hidup yang matang dan dewasa, ia tidak pernah mengalami masa kanak-kanak masa remaja, dan bahkan ia tak akan pernah mengalami masa tua dan lemah. islam sejak awal adalah cahaya dan terus cahaya dan tak akan pernah redup sedikitpun. Ia berasal dari Allah swt dan bukan hasil pengalaman manusia.
Allah swt adalah tuhan seluruh manusia dia lebih tahu apa yang baik dan apa yang buruk untuk manusia.iya memberi kita petunjuk agar kita selamat dalam menjalani kehidupan,dia menurunkan wahyunya kepada nabi untuk disampaikan kepada kita,untuk membimbing kita kedalam jalan kebenaran,jalan kebahagian dunia dan akhirat.akal tidak akan mampu menjangkau seluruh hakikat,iya membutuhkan bimbingan wahyu.tampa wahyu,akal akan meraba-raba dan menuga-duga saja,dan penuh keragu-raguan.
Demikianlah, akal bukanlah asal syariat tapi akallah yang harus tunduk kepada syariat, sebagaimana Allah swt berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mandahului Allah dan Rasulnya dan bretakwahlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (Al-hujurat :1 )
Orang yang berakal bukanlah orang yang sekedar tahu baik dan buruk, tetapi orang berakal adalah orang yang mengetahui yang baik kemudian mengikutinya dan yang mengetahui yang buruk kemudian menjahuinya, demikian Sufyan bin Uyainah ra pernah berkata.wallaahu a’lam.
Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah
tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak
satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka
mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang,
Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan :
Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya
tidak berbuat dosa lagi
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat
sebelum aku mati"
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan
perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk
penjara karena
kejahatan yang dilakukannya
Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa,
namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan
dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan
dilakukan
keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng
berdentang menandakan pukul enam pagi
Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu
dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa
berlutut kepada Tuhan
"Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua
ini yang
menanggung dosa nya"
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon
supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani
hukuman
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah
Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan
akhirnya dia tertidur karena kelelahan
Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan,
rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut
Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak
sudah pasrah dengan nasibnya
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan
tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga
berdentang
sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik,
akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng
datang
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik
tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali
lonceng itu mengalir darah
Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu
diikat
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan
saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber
darah
Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua
dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan
lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di
dinding lonceng
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk
dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya
yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya
Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah
memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng
Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman
pancung anaknya
Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya
Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh
hidupnya.
Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing
selagi kita masih mampu
karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di
dunia ini
Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita..
Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang
tidak bisa dinilai dengan apapun
There is a story living in us that speaks of our place in
the world
It is a story that invites us to love what we love and
simply be
ourselves
Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa
muda yang
abadi
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber
kebijaksanaan
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak
istimewa
yang diberikan Tuhan
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju
kebahagiaan
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang
menggetarkan hati
Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa
berarti
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan
Ambillah waktu utk beramal, itu adalah kunci utk menuju
surga
Gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa
diputar
kembali
Jika kamu menyayangi Ibumu, "FORWARD" lah
ini kepada sahabat-sahabat anda.
SEBERAPA DALAM KAMU MENCINTAI IBUMU ???? mother is the
best super hero
in the world
